Balai Karya Bahagia Medan Respon Kasus Bocah Minum Bensin

0
33

TANJUNGBALAI (28 September 2021). Bocah asal Tanjungbalai memiliki kebiasaan mengirup dan meminum bensin viral (https://www.merdeka.com/jabar/cerita-pilu-bocah-di-sumut-punya-kebiasaan-minum-bensin-hingga-harus-berhenti-sekola.html). Kebiasaan ini sudah berlangsung kurang lebih 6 tahun.

Kementerian Sosial melalui Balai Karya Bahagia Medan segera merespon kasus tersebut dengan menerjunkan Tim Reaksi Cepat (TRC) bersama Kepala Balai langsung. Balai Karya Bahagia Medan pertama mengunjungi Dinas Sosial Tanjung Balai untuk berkoordinasi. Balai bertemu dengan M. Idris, Kadis Dinas Sosial untuk berkoordinasi dan memastikan kebenaran berita bocah 11 tahun yang viral di media massa.
“Dinas Sosial akan membantu apa yang dibutuhkan nanti dalam hasil asesmen dari Balai”, ucap M. Idris.

                    Kepala Balai Karya Bahagia Medan Berkoordinasi Dengan Dinas Sosial Kota Tanjungbalai

Tim lantas bersama Dinas Sosial dan Sakti Peksos menuju kediaman AR, bocah 11 tahun yang memiliki kebiasaan meminum bensin. Di kediamannya, orangtua AR, UC menyambut ramah tim balai. UC bercerita panjang lebar mengenai kondisi putranya kepada Kepala Balai dan psikolog serta staf dari Dinas Sosial Tanjungbalai dan awak media. Ketika usia 7 bulan AR mengalami epilepsi hingga saat ini seringkali kambuh. AR hingga saat ini tidak bersekolah, UC menuturkan bahwa putranya hanya sempat bersekolah PAUD selama kurang lebih 3 bulan, namun tidak dilanjutkan karena AR menolak. UC juga menceritakan bahwa dirinya pernah memergoki AR memakan potongan keramik jauh sebelum bocah tersebut kecanduan bensin.

UC kemudian menceritakan bahwa AR sudah 6 tahun belakangan memiliki kebiasaan menghirup dan meminum bensin. Kejadian berawal ketika ada orang lain yang mengajak anaknya mencoba menghirup bensin, lantas hal tersebut menjadi kebiasaan yang sulit diubah. Pada 3 tahun silam, AR pernah mencoba mengambil bensin kemudian dipergoki orang lain. Orang tersebut lantas menyiram bensin ke badan AR dan membakarnya. Akibatnya AR mengalami luka bakar di beberapa bagian tubuhnya terutama di bagian kaki kiri.

AR ditemani ibundanya kemudian melakukan berbagai terapi dan pengobatan selama kurang lebih 8 bulan. Selama pengobatan tersebut AR terpantau berhenti mengkonsumsi bensin hingga suatu ketika orangtuanya mengetahui orang lain kembali menunjukkan bensin. AR kembali kambuh namun kali ini disertai emosi dan amarah apabila tidak mendapatkan bensin. Orangtua mengaku anaknya mengalami perubahan sejak dibakar orang lain. Bocah 11 tahun tersebut mudah marah apabila keinginannya mendapatkan bensin tidak terpenuhi, bahkan tak jarang merusak barang di rumahnya.

                             TRC dan Kepala Balai Karya Bahagia Medan Menyambangi Kediaman AR

Pasca kejadian pembakaran tersebut, Dinas Sosial bersama Sakti Peksos pernah merespon kasus tersebut dengan merekomendasikan AR dibawa ke LPKSA di Lubuk Pakam, namun saat itu karena kondisi sedang tidak memungkinkan dan ibunya panik dengan kondisi putranya, keluarga menolak. Dinas Sosial juga menjelaskan bahwa UC dan keluarganya juga mendapatkan bantuan PKH dan BPNT serta terdaftar di BPJS (PBI).

Psikolog Balai Karya Bahagia Medan di kediaman AR melakukan asesmen melalui metode observasi kepada AR dan wawancara kepada kedua orangtuanya. Hasil menunjukkan bahwa secara fisik AR tampak sehat, aktif berbicara dan ramah kepada orang baru. Meskipun sedikit mengalami gangguan bicara namun AR tidak ragu untuk menceritakan banyak hal kepada tamu di rumahnya. Psikoedukasi juga diberikan kepada orangtua AR mengenai tindakan yang bisa dilakukan UC dan suaminya terkait kondisi putranya.

                                      Psikolog Balai Karya Bahagia Medan Bersama AR

Tim dari Balai Karya Bahagia Medan kemudian bersama Dinas Sosial Tanjungbalai memfasilitasi AR untuk dibawa menjalani pemeriksaan dengan psikiater untuk melihat secara khusus bagaimana kondisinya. Hasil dari pemeriksaan tersebut diharapkan menjadi pertimbangan kedua instansi memutuskan langkah yang tepat bersama keluarga.
“Kalau yang terbaik untuknya, meski berat hati saya siap, hanya saya ragu anaknya akan betah” tutur ibunda AR.
UC dan suaminya mengaku siap apabila AR suatu hari mendapat rehabilitasi dan menetap beberapa waktu di lembaga tertentu, meskipun dengan berat hati. Hal ini demi masa depan AR.

Humas Balai Karya Bahagia Medan